Ekka Blog: Manusia dan Agama

MenuBar

12 January 2019

Manusia dan Agama


Pandangan tentang Manusia


Manusia dalam Alquran

Ada dua kata dalam Alquran yang berarti manusia, yaitu kata insan dan basyar (Shihab, 1996: 277). Kata insan berasal dari kata uns yang berarti jinak, harmonis, dan tampak. Kata basyar berasal dari akar kata yang pada mulanya berarti penampakkan sesuatu dengan baik dan indah. Dari akar kata yang sama lahir kata basyarah yang berarti kulit. Manusia dinamai basyar karena kulitnya tampak jelas, dan berbeda dengan kulit binatang yang lain.
وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمّ إِذَا أَنْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُونَ  
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan kamu dari tanah, Kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak (Q.S. Al-Rum, 30: 20).
Kata basyar diartikan dengan berkembang biak menunjukkan bahwa manusia memikul tanggung jawab dalam kehidupannya. Karena itu, tugas kekhalifahan dibebankan kepada .

Manusia dalam Perspektif Kebudayaan

Ada ungkapan filosofis yang berbunyi : “Kenalilah dirimu sendiri”. Mendengar ungkapan perintah ini pasti ada pendapat yang berbeda tentang manusia. Sokrates misalnya mendekati manusia sebagai individu, sementara menurut Plato manusia harus dipelajari dari sudut kehidupan sosial dan politiknya. Namun, kehidupan politik bukanlah satu-satunya hidup komunal manusia (Cassirer, 1944: 97). Comte mengatakan bahwa “mengenal diri adalah mengenal sejarah”. Selanjutnya ia menyatakan bahwa untuk mengerti manusia tidak cukup apabila hanya dilihat dari sudut fisika, kimia, dan biologi saja.

Baca juga: Masyarakat Madani

Pandangan tentang Agama

Beberapa ahli menyatakan bahwa bukan persoalan yang gampang dan mudah untuk membuat rumusan pengertian atau definisi agama yang dapat menampung semua jenis agama yang ada. Untuk menuju kepada pengertian atau definisi agama, ada baiknya terlebih dahulu melihat pengertian-pengertian yang ada di sekitar istilah yang selama ini dipakai untuk menyebut keyakinan yang dianut oleh umat manusia. Istilah-istilah itu adalah agama, religion, dan al-din.
1.       Agama
Kata agama berasal dari bahasa Sansekerta untuk menunjuk kepercayaan agama Hindu dan Buddha. Dalam perkembangannya kata ini diserap ke dalam bahasa Indonesia dan dipakai untuk menyebut kepercayaan yang ada di Indonesia secara umum. Ada beberapa ahli agama yang memberikan arti terhadap kata ini, antara lain menurut Harun Nasution, agama berasal dari kata A dan Gam. A diartikan tidak dan gam diartikan pergi. Jadi agama secara harfiah berarti tidak pergi.
Agama berarti teks atau kitab suci. Disebut demikian karena semua ajaran agama terdapat dalam kitab-kitab suci agama. Pada umumnya agama-agama memiliki kitab suci. Selanjutnya dikatakan bahwa gam berarti tuntunan. Inti agama adalah adanya seperangkat aturan. Oleh karena itu, setiap agama membawa ajaran-ajaran yang akan menjadi tuntunan hidup para pemeluknya (Nasution, 1979: 9; Shihab, 2001: 52).
2.       Religion
Kata religion (bahasa Inggris) dan religie (bahasa Belanda) berasal dari bahasa Latin. Ada dua kata yang menjadi akar dari kata religion, yaitu religere dan religare. Pertama, kata religere menurut Cicero berarti to treat carefully (melakukan perbuatan dengan penuh kehati-hatian). Kata religere juga mengandung arti mengumpulkan atau membaca. Kedua, kata religion berasal dari bahasa Latin religare. Kata religare menurut Lactantius berarti to bind together (mengikat menjadi satu atau perikatan bersama). Ikatan di sini bisa berarti komunal, yaitu bahwa agama merupakan ikatan kependetaan atau ikatan orang-orang suci yang bebas dari dosa atau berusaha untuk membebaskan diri dari dosa. Di sisi lain bahwa agama membawa ajaran yang berbentuk aturan, dan bahwasanya aturan-aturan itu mengikat kepada para pemeluknya (Nasution, 1979: 10).
3.       Al-Din
Kata Din yang merupakan kumpulan huruf dal, ya, dan nun dalam bahasa Arab mempunyai banyak arti. Din dalam bahasa Semit berarti undang-undang atau hukum. Sementara itu dalam bahasa Arab kata din mengandung arti: menguasai, menundukkan, patuh, hutang, balasan, dan kebiasaan. Secara keseluruhan din berarti peraturan-peraturan yang merupakan hukum yang harus dipatuhi. Din juga berarti membawa kewajiban-kewajiban yang kalau tidak dijalankan akan menjadi hutang bagi pengikutnya. Pada saat yang sama adanya kewajiban tersebut berakibat akan adanya balasan. Karena seringnya suatu perbuatan dilakukan, maka perbuatan itu kemudian menjadi kebiasaan (Nasution, 1979: 9).
Menurut Naquib al-Atas arti dasar dari istilah din dapat dipadatkan menjadi empat, yaitu: a. keadaan berhutang, b. kepatuhan, c. kecenderungan atau tendensi alamiah, dan d. kekuasaan yang bijaksana (Gauhar, 1982: 36).

Baca juga: Konsep dan Pembinaan Keimanan

Teori Asal Usul Agama

Terkait dengan relasi antara manusia dan agama, ada beberapa teori mengenai benih kepenganutan manusia terhadap agama dan juga teori mengenai kepercayaan keagamaan yang dipandang paling tua. Setidaknya ada dua cara pandang mengenai keberagamaan manusia. Satu pihak mengatakan bahwa agama merupakan keinginan Tuhan untuk menyelamatkan kehidupan manusia. Karena kasihnya itu, manusia ditunjuki jalan menuju keselamatan hidup. Di pihak lain agama merupakan cara manusia untuk mencari keselamatan dengan menyandarkan kehidupannya kepada kehendak Tuhan.
Cara pandang kedua diwakili oleh adanya pendapat yang menyatakan bahwa benih yang melahirkan agama adalah karena rasa takut yang menyertai hidup manusia. Agama bermula dari tanggapan manusia terhadap kebutuhan-kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi sepenuhnya di dunia ini. Kebutuhan dasar manusia (primitif) adalah keamanan terhadap berbagai ancaman, apapun bentuknya, baik lahiriah atau ruhaniah (Thouless, 1992: 105)

Unsur-unsur Pokok Agama

Secara umum Joachim Wach mengemukakan adanya tiga unsur pokok ungkapan pengalaman keagamaan. Ketiga pokok ungkapan pengalaman itu adalah ungkapan pengalaman keagamaan dalam bentuk pemikiran, tindakan, dan persekutuan. Versi lain mengenai unsur-unsur pokok agama meliputi beberapa aspek sebagai berikut.
1.       Emosi keagamaan.
2.       Sistem keyakinan.
3.       Sistem ritus dan upacara keagamaan.
4.       Peralatan dan tempat pelaksanaan ritus keagamaan.
5.       Kelompok pemeluk.

Baca juga: Dinul Islam

Klasifikasi Agama

Ada berbagai klasifikasi agama yang dibuat oleh para ahli. Tetapi harus dipahami bahwa pembuatan klasifikasi tersebut tidaklah bersifat mutlak. Boleh jadi model klasifikasi tertentu memperlihatkan kecenderungan keagamaan yang dimiliki pembuatnya. Oleh karena itu, suatu klasifikasi bisa saja tidak dapat diterima secara umum oleh semua pengikut agama. Sebagai contoh dikemukakan di sini model klasifikasi Al-Masdoosi. Dalam bukunya Living Religion of the World al-Masdoosi mengklasifikasikan agama ke dalam: 1. revealed and non-revealed religion; 2. missionary and nonmissionary religion; dan 3. geoghraphical-racial religion (Anshari, 1986: 117-119).

Agama Sebagai Fitrah Manusia

Apabila mengamati fenomena kehidupan umat manusia, akan kita dapati suatu kenyataan bahwa mereka adalah para pemeluk dari suatu agama tertentu. Mereka terdiri dari pemeluk agama seperti Yahudi, Nasrani, Islam, Hindu, Buddha, Shinto, Konghucu, Tao, dan lainnya. Dalam kenyataannya yang demikan menunjukkan bahwa manusia membutuhkan agama. Agama menempati kedudukan yang penting dalam kehidupan manusia.

Peran dan Fungsi Agama

Sebagaimana tercermin dari arti yang melekat pada kata agama, religion, dan al-din di atas, agama secara keseluruhan berarti serangkaian atau seperangkat aturan, ketentuan, dan kaidah-kaidah kehidupan yang harus dipegangi dan dijadikan rujukan atau petunjuk oleh setiap pemeluk dan penganutnya dalam menjalankan seluruh aktivitas keidupannya.

Sumber:
Sudrajat, Ajat dkk. 2016. Dinul Islam. Yogyakarta: UNY Press.


No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Tinggalkan komentar dengan bahasa yang sopan.