Ekka Blog: Konsep Akhlak dan Pendidikan Karakter dalam Islam

MenuBar

01 July 2019

Konsep Akhlak dan Pendidikan Karakter dalam Islam


Konsep Akhlak dan Pendidikan Karakter dalam Islam

Akhlak berasal dari bahasa Arab al-akhlaq yang berarti tabiat, perangai dan kebiasaan. Khuluq adalah ibarat dari kelakuan manusia yang membedakan baik dan buruk, lalu disenangi dan dipilih yang baik untuk dipraktikkan dalam perbuatan, sedang yang buruk di benci dan dihilangkan (Ainain, 1985:186)
Dalam pembendaharaan bahasa Indonesia kata yang setara maknanya dengan akhlak adalah moral, etika, nilai, dan karakter. Secara konseptual etika dan moral mempunyai pengertian serupa, yakni sama-sama  membicarakan perbuatan dan  perilaku manusia ditinjau dari baik dan buruk. Etika memandang perilaku secara universal sedangkan moral secara lokal. Dalam KBBI karakter diartikan sebagai tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain, dan watak.


Karakter mulia (good character) meliputi pengetahuan tentang kebaikan (knowing the good), lalu menimbulkan komitmen (niat) terhadap kebaikan (desiring the good), dan akhirnya benar-benar melakukan kebaikan (doing the good). Inilah tiga pilar karakter yang diharapkan menjadi kebiasaan (habits), yakni habits of the mind (kebiasaan dalam pikiran), habits of the heart (kebiasaan dalam hati), dan habits of action (kebiasaan dalam tindakan). Dengan kata lain, karakter mengacu kepada serangkaian pengetahuan (cognitives), sikap (attitudes), dan motivasi (motivations), serta perilaku (behaviors) dan keterampilan (skills) (Lickona, 1991: 51).

Baca juga: Konsep dan Pembinaan Keimanan

Sistem moralitas yang pertama (moral agama) dapat ditemukan pada sistem moralitas Islam (akhlak). Hal ini karena Islam menghendaki dikembangkannya al-akhlaq al-karimah yang pola perilakunya dilandasi dan untuk mewujudkan nilai Iman, Islam, dan Ihsan. Iman sebagai al-quwwah al-dakhiliah, kekuatan dari dalam yang membimbing orang terus melakukan muraqabah (mendekatkan diri kepada Tuhan) dan muhasabah (melakukan perhitungan) terhadap perbuatan yang akan, sedang, dan sudah dikerjakan. Ubudiyah (pola ibadah) merupakan jalan untuk merealisasikan tujuan akhlak. Cara pertama untuk merealisasikan akhlak adalah dengan mengikatkan jiwa manusia dengan ukuran-ukuran peribadatan kepada Allah. Karakter tidak akan tampak dalam perilaku tanpa mengikuti aturan-aturan yang ditetapkan oleh Allah Swt. (Hawa, 1977: 72).

Sedangkan sistem moralitas yang kedua (moral sekular) adalah sistem yang dibuat atau sebagai hasil pemikiran manusia (secular moral philosophies) dengan mendasarkan pada sumber-sumber sekular, baik murni dari hukum yang ada dalam kehidupan, intuisi manusia, pengalaman, maupun karakter manusia (Ismail, 1998: 181).

Secara umum karakter dalam perspektif Islam dibagi menjadi dua, yaitu karakter mulia (al-akhlaq al-mahmudah) dan karakter tercela (al-akhlaq al-madzmumah). Karakter mulia harus diterapkan dalam kehidupan setiap muslim sehari-hari, sedang karakter tercela harus dijauhkan dari kehidupan setiap muslim. Jika dilihat dari ruang lingkupnya, karakter Islam dibagi menjadi dua bagian, yaitu karakter terhadap Khaliq (Allah Swt.) dan karakter terhadap makhluq (makhluk/selain Allah Swt.). Karakter terhadap makhluk bisa dirinci lagi menjadi beberapa macam, seperti karakter terhadap sesama manusia, karakter terhadap makhluk hidup selain manusia (seperti tumbuhan dan binatang), serta karakter terhadap benda mati (lingkungan alam). Islam menjadikan akidah sebagai fondasi syariah dan akhlak. Karena itu, karakter yang mula-mula dibangun setiap muslim adalah karakter terhadap Allah Swt.

Baca juga: Dinul Islam





Sumber:
Sudrajat, Ajat dkk. 2016. Dinul Islam. Yogyakarta: UNY Press


No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Tinggalkan komentar dengan bahasa yang sopan.